Tolong buatkan cerpen tentang keseharian Dan minimal 3 paragraph,, to long secepatnya soalnya besok di kumpul
B. Indonesia
NoviaFilex
Pertanyaan
Tolong buatkan cerpen tentang keseharian Dan minimal 3 paragraph,, to long secepatnya soalnya besok di kumpul
2 Jawaban
-
1. Jawaban Hy3in4
Hari ini saya bangun seperti biasa yaitu jam 5 pagi , setelah bangun saya menggosok gigi dan mencuci muka lalu mandi , setelah itu saya sarapan , lalu siap siap berangkat ke sekolah , saya menaiki kendaraan pribadi untuk pergi ke sekolah.
Setelah sampai di sekolah , saya bertemu dengan teman saya lalu bermain sebentar sebelum masuk ke kelas setelah bel berbunyi saya dan teman teman saya berbaris rapi untuk masuk ke kelas.
Saat memulai pelajaran saya memperhatikan guru dengan seksama lalu mengerjakan tugas yang di berikan oleh guru , tugas nya sulit sulit tapi saya berusaha semampu saya supaya memdapat nilai yang bagus.
Lalu jam pulang pun tiba , saya bergegas pulang, saat sudah sampai di rumah saya mandi , dan membereskan buku lalu mengerjakan pr , setelah pr selesai saya bermain di luar dengan tetangga tetangga saya sampai jam 5 sore saat jam 5 sore tiba saya pulang ke rumah dan belajar sebentar , setelah selesai belajar saya makan malam , lalu mencuci tangan dan kaki dan pergi tidur
Maaf kalau salah , semoga membantu , maaaf kalau salah -
2. Jawaban GHILBRAN1
1.Untuk Gadis Di Balik Bukit
Aku kirimkan rintik hujan untuk gadis di balik bukit. Debu-bebu musim kering telah membuat kusam wajahnya. Kebun ditumbuhi rumput yang mulai kecoklatan dan bunga-bunga tak mau mekar. Teduh senyumnya tak mampu menurunkan hujan. Angin kering yang dingin menusuki tulang kurusnya. Gadisku, bertahanlah di sana.
Kepada Pak Lurah aku pinjam teropong untuk melihat ke arah awan. Sudahkah rintik hujan sampai di balik bukit. Bersama dengannya aku sematkan rindu yang mulai membeku. Saat tetesnya sampai padamu, kuharap bekuan rinduku luruh dihangat pelukmu, membasahi ragamu yang kelu. Dengan itu, kubasuh siksaan batinmu.
Aku belum bisa pulang. Panenan sedang melimpah di sawah. Harus kuselesaikan pekerjaan sebelum bisa kupersembahkan padamu segala upah. Semoga rintik hujan yang kukirim cukup melimpah. Hingga benih yang kubeli dari upah bisa kau taman di belakang rumah, menjadi pohon dan menyimpan air cinta sampai kita bersua.
2.“Wah… kau sekarang tampak lebih gemuk ya. Sepertinya kau akan menghasilkan bulir padi yang banyak dan berisi,” kata padi yang kurus. Sampai saat ini si kurus masih belum juga menunjukan tanda-tanda berisi. Pertumbuhannya sungguh sangat lambat dibandingkan padi tetangga lain. Itulah kenapa dia menyapa padi tetangga yang tampak cepat pertumbuhannya. Ada rasa iri tersembunyi melihat padi-padi lain bisa tumbuh cepat dan gemuk.
Sambil sedikit menegakan badan dari rundukannya, si padi gemuk yang tumbuh cukup cepat pun menjawab, “Aku tampak gemuk karena tuanku memaksaku makan obat penggemuk badan. Entah berapa banyak bulir yang dia harapkan keluar dariku. Aku susah bernafas, sering terengah-engah karena kekenyangan. Selain membuatku jadi super gemuk, sepertinya tuanku menyemprotkan cairan yang membuatku buruk rupa. Sudah jarang belalang bermain di sekitarku. Kupu-kupu pun pergi terburu-buru.”
Lalu mereka melihat anak-anak kecil berlarian di pematang. Anak si tuan yang menanam padi gemuk juga tampak gemuk, tapi mereka sering sakit. Sementara, anak si tuan penanam padi kurus, meski badannya tak sebesar anak lain, tubuhnya sehat dan lincah. Si padi kurus pun menarik nafas lega, sambil pelan-pelan akarnya bercengkrama dengan cacing untuk menyerap hara.
3.Aku tak pernah serindu ini untuk pulang. Ya, pulang, kata yang selama bertahun-tahun aku lupakan. Kupendam dalam-dalam di timbunan kemarahan. Rumah masa kecilku yang menyimpan sejuta kenangan, sekaligus yang membakar tungku amarah. Tungku itu juga yang menempa sayapku untuk terbang meninggalkan rumah.
Ayah dan ibu bukannya tak pernah sayang padaku. Mereka menyayangiku dengan sepenuh hati. Hanya saja, sejak abangku terkena stroke yang membuatnya lumpuh serta sulit berkomunikasi di usianya yang baru 16 tahun, seluruh perhatian ayah dan ibu tercurah untuk abangku. Di masa aku ingin terbang melihat dunia, kondisi abang menuntutku untuk terikat padanya, menuntut ayah dan ibu melayaninya. Aku harus mengurungkan niat untuk menuntut ilmu di kota lain. Maka, setelah aku lulus dan diterima kerja di sebuah LSM international, aku terbang dari negara ke negara, dari pelosok desa sampai ke hutan.
Bertahun-tahun aku mencari kebahagiaan, penerimaan dan keluarga baru di antara kawan-kawan. Semua datang silih berganti sampai aku sadar, tak ada raut wajah segembira dan setulus wajah abangku ketika aku menyuapinya dulu. Tak ada telinga yang selebar telinga abangku yang selalu setia mendengar semua cerita dan racauan keseharianku. Aku dirundung rindu yang menggebu pada orang yang selama ini kuanggap beban. Kenangan akan abang, membawaku untuk pulang.
"silahkan pilih salah satu yang anda suka"
(semoga bermanfaat)